Rumah Joglo 1 Rumah Joglo 2 Rumah Joglo 3 Rumah Joglo 4 Rumah Joglo 5 Rumah Joglo 6 Rumah Joglo 7 Rumah Joglo 8 Rumah Joglo 9 Logo
01 / 10

Rumah Joglo 1

02 / 10

Rumah Joglo 2

03 / 10

Rumah Joglo 3

04 / 10

Rumah Joglo 4

05 / 10

Rumah Joglo 5

06 / 10

Rumah Joglo 6

07 / 10

Rumah Joglo 7

08 / 10

Rumah Joglo 8

09 / 10

Rumah Joglo 9

10 / 10

Logo

limasan,

  • Bagian-bagian dari rumah joglo

    bagian-bagian dari rumah joglobagian-bagian dari rumah joglo

    Joglo mengikuti bentuk dasar persegi panjang, biasanya ditaruh di atas tempat yang lebih tinggi untuk menyediakan drainase di sekitar gedung.

     

     

    Empat pilar mendukung strcture utama atap. 

    Ini adalah empat "Saka Guru" atau pilar di tengah bangunan, 

     

     

    Dua belas tiang lebih sekitar dukungan struktur utama atap, ini adalah "Saka Penanggap" atau "pengikut tiang." 

  • Arsitekture rumah tradisional di jawa

    Tipologi rumah atau tempat tinggal yang sering disebut “omah”, yang dimaksudkan adalah tempat bernaung bagi masyarakat di pulau jawa. Kehidupan orang jawa mencakup 3 syarat ungkapan pengertian hidup yaitu guna mencukupi kebutuhan sandang (pakaian yang wajar), Pangan ( minum dan makan ) dan Papan ( tempat tinggal ). Untuk syarat yang ketiga yaitu kebutuhan akan rumah tinggal haruslah terpenuhi, karena hal tersebut sebagai syarat untuk memenuhi kehidupan yang sejahtera, sebab jikalau sudah memiliki rumah tinggal sendiri maka mereka tidak akan menyewa tempat bernaung atau sering disebut “ngindhung”. Bentukan sederhana adalah ungkapan kehidupan sederhana masyarakat jawa. Hal tersebut dapat terlihat dari penggambaran bentuk denah yang cukup sederhana. Biasanya bentuk denah yang diterapkan berbentuk persegi yaitu bujur sangkar dan persegi panjang. Hal tersebut sesuai dengan estetika hidup orang jawa yang mempunyai ketegasan prinsip dalam menjalankan tanggung jawab terhadap hidupnya. Sedangkan tipologi bentuk denah oval atau bulat tidak terdapat pada bentuk denah rumah tinggal orang jawa. Bentuk persegi empat ini dalam perkembangannya mengalami perubahan dengan penambahan-penambahan ruang pada sisi-sisi bagian bangunannya, tetapi tetap merupakan kesatuan bentuk dari denah persegi empat.

     

    Berdasarkan pada sejarah pembelajaran perkembangan bentuk rumah tinggal orang jawa, dapat dikategorikaan menjadi 4 macam bentukan yang mendasari sebagai bentuk rumah tinggal. Yaitu Rumah tradisional bentuk “Panggangpe”, bentuk “Kampung”, bentuk “Limasan” dan bentuk “Joglo”. Rumah tradisional bentuk “Tajug” tidak dipakai sebagai rumah tinggal, melainkan dipakai sebagai rumah ibadah. Sebenarnya kategori bentuk di atas di pisahkan berdasarkan bentukan atap yang berbeda-beda.

     

  • Beranda

     

     

     

  • Ketentuan

  • Sejarah perkembangan bentuk rumah orang jawa

    Berdasarkan sejarah, perkembangan bentuk rumah tinggal orang jawa dapat dikategorikan menjadi 4 macam yaitu rumah tradisional:

     

    bentuk Panggangpe, 

    bentuk Kampung, 

    bentuk Limasan 

    bentuk Joglo.

     

    Dibanding bentuk lainnya, rumah bentuk joglo lebih dikenal masyarakat pada umumnya.

     

    Rumah Joglo kebanyakan hanya dimiliki oleh mereka yang mampu. Mengapa? Jalarannya rumah joglo butuh bahan lebih banyak dan mahal ketimbang rumah bentuk lain. Masyarakat jawa dulu menganggap bahwa rumah joglo tidak boleh dimiliki oleh sembarang orang, oleh orang kebanyakan, tapi hanya diperkenankan bagi kaum bangsawan, raja, dan pangeran, serta mereka yang terhormat dan terpandang. Namun dewasa ini rumah joglo digunakan pula oleh segenap lapisan masyarakat dan juga untuk berbagai fungsi lain, seperti gedung pertemuan serta perkantoran. 

     

    Pada dasarnya rumah bentuk joglo berdenah bujur sangkar, dengan empat pokok tiang di tengah yang di sebut saka guru, dan digunakan blandar bersusun yang di sebut tumpangsari. Bentuk persegi empat ini dalam perkembangannya mengalami perubahan dengan adanya penambahan-penambahan ruang di sisi bangunannya namun tetap merupakan kesatuan bentuk dari denah persegi empat. 

     

    Dari perubahan-perubahan itu muncullah aneka bentuk rumah joglo dengan aneka nama yaitu:

     

    joglo jompongan, 

    joglo kepuhan lawakan, 

    joglo ceblokan, 

    joglo kepuhan limolasan, 

    joglo sinom apitan, 

    joglo pengrawit, 

    joglo kepuhan apitan, 

    joglo semar tinandu, 

    joglo lambangsari, 

    joglo wantah apitan, 

    joglo hageng, dan 

    joglo mangkurat.

  • Sistem Knockdown pada rumah Limasan

    Rumah Limasan memiliki sistim struktur knockdown yang sangat simple, sehingga sistim struktur ini masih dipakai sampai saat ini. Sambungan-sambungan kayu di perkuat dengan sistim sundhuk, sehingga kelenturan daya elastisitas material kayu dapat memberikan gerakan-gerakan tertentu yang dapat meredam getaran atau goncangan akibat dari pergeseran tanah atau gempa bumi. Hal ini dimungkinkan karena mereka belajar dari nenek moyang terdahulu yang sudah merasakan bahaya gempa bumi terhadap bangunan. Pembelajaran sistim sederhana ini harus dilestarikan sebagai nilai sejarah dan nilai estetika struktur yang harus dikembangkan sebagai sistim-sistim yang lebih modern.

     

     

    Sistim knockdown dan hal ini menjadikan rumah dapat dipindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal tersebut dimungkinkan, karena material kayu pada dahulu kala sangat banyak dan sangat bagus sebagai rumah tinggal. Keseluruhan sambungan konstruksinya dapat dilepas dan disatukan kembali tanpa merusak bentuk dan keindahan rumahnya. Hal itu terbukti, bahwa sampai saat ini banyak peninggalan rumah-rumah Jawa seperti Rumah Limasan dan Rumah Joglo masih berdiri tegak dan masih dapat diperbaharui pembuatannya.

  • Tentang Kami

  • Tips Finishing Rumah Kayu

    Untuk finishing rumah kayu sebaiknya menggunakan bahan finishing yang mampu melindungi kayu dari kerusakan akibat cuaca, di samping (sudah tentu) memperindah kayu tersebut. Nah,Untuk ingin menggunakan bahan finishing yang pengencernya air,  bisa menggunakan ULTRAN AQUA POLITUR. Produk ini bukan seperti politur biasa, tetapi suatu politur modern yang tahan terhadap cuaca dengan pengencer air.

     

     

    Cara aplikasinya cukup dengan menggunakan kuas saja. Sebelum difinishing, kakyu bersihkan permukaannya dari debu, minyak, dan kotoran lainnya. Kemudian amplas permukaan kayu dengan kertas amplas no. 180 searah serat kayu sampai permukaan kayu menjadi halus. Bersihkan debu bekas amplasnya. Aduk dahulu ULTRAN AQUA POLITUR sebelum diaplikasikan, lapiskan secara merata ke seluruh permukaan kayu. Untuk lapisan pertama ini, sebaiknya tambahkan dengan air bersih sekitar 10% saja agar dapat meresap dengan baik ke dalam kayu. Tunggu hingga kering, kemudian amplas ambang dengan kertas amplas no. 400. Lakukan pelapisan tahap kedua tetapi tanpa pengenceran lagi. Kami anjurkan minimal dua kali lapis. Penampilan warna ULTRAN AQUA POLITUR adalah semi-gloss, jika ingin lebih glossy atau dof, sebagai lapisan terakhir bisa menggunakan ULTRAN AQUA POLITUR CLEAR GLOSS atau DOF. Selamat Mencoba...

     

Google Map

Contact Us

Email:
Subject:
Message:

Please publish modules in offcanvas position.